Home » » Sekilas Riwayat GUNUNG JATI Bag III

Sekilas Riwayat GUNUNG JATI Bag III

Written By ari hermana on Friday, June 29, 2012 | Friday, June 29, 2012

Sunan Gunung Jati Bukan FATAHILLAH

Sebagaimana diketahui bahwa perkawinan Nyi Ratu Rarasantang atau Syarifah Muda'im dengan Syarif Abdillah penguasa Kota Isma'iliyah telah dikaruniai dua orang putera, yaitu Syarif Hidayatullah dan adiknya, Syarif Nurullah. Sejak kanak-kanak keduanya telah diperintahkan ayahnya agar menimba ilmu sepenuh-penuhnya dari siapa saja ulama yang mereka gurui. Dengan demikian maka kemungkinan terjadi antara keduanya itu berlainan memilih guru. Adapun ulama-ulama yang digurui oleh Syarif Hidayatullah di antaranya adalah Syekh Tajmuddin al Kubro dan Syekh Ataillah Syadzali. Selain Ilmu-ilmu agama dan ilmu sosial, ia pun mempelajari Ilmu Tasauf dari ulama-ulama Bagdad.

Pada saat Syarif Hidayatullah berusia dua puluh tujuh tahun Syarif Abdillah meninggal dunia, maka sebagai puteranya yang tua Syarif Hidayatullah ditunjuk untuk menggantikannya memerintah kota Isma'iliyah. Akan tetapi karena dia sudah bertekad untuk melaksanakan harapan ibunya, yaitu menjadi mubaligh di Caruban, maka dia melimpahkan jabatan itu kepada adiknya, Syarif Nurullah.

Beberapa bulan setelah pengangkatan Syarif Nurullah sebagai penguasa kota Isma'iliyah, ibunda Syarif Muda'im meninggalkannya untuk pulang ke tanah jawa bersama Syarif Hidayatullah. Dalam perjalanan pulangnya kedua anak dan ibu itu beberapa kali singgah di beberapa daerah dengan waktu yang tidak menentu, seperti di Mekkah, Gujarat dan Pasai. Dan sekitar tahun 1475 keduanya baru sampai Caruban. Dapatlah digambarkan bagaimana suasana di Istana Pakungwati Negeri Caruban itu saat menyambut kedatangan Syarifah Muda'im dan puteranya.

Pada masa itu Syekh Dzatul Kahfi sudah wafat dan dimakamkan di tempat perguruannya itu. Maka dengan alasan agar selalu dekat dengan makam gurunya, Syarifah Muda'im mohon utnuk tinggal saja di kampung Pasambangan bersama puteranya Syarif Hidayatullah. Oleh Pangeran Cakrabuana, keduanya diperkenankan tinggal di Pertamanan Gunung Sembung sambil mengajarkan Agama Islam sebagai penerus Pangguron Islam Gunung Jati.
Disaat yang sudah ditentukan dan sesuai dengan yang sudah direncanakan, Pangeran Cakrabuana menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya Nyi Ratu Pakungwati. Selanjutnya pada tahun 1479, karena usianya yang semakin lanjut Pangeran Cakrabuana mengalihkan kekuasaannya atas Nagari Caruban kepada menantu yang juga keponakannya, SYARIF HIDAYATULLAH dengan gelar SUSUHUNAN atau SUNAN.

Pada tahun pertama pengangkatannya beliau berkunjung ke Pajajaran guna memperkenalkan diri dan sungkem kepada eyangnya serta mengajaknya kembali ke Agama Nabi. Tetapi Prabu Siliwangi tidak menyambut baik ajakan itu. Meskipun demikian tidak menghalangi cucunya itu mengembangkan Agama Islam di wilayah Pajajaran. Karena itu Syarif Hidayatullah melanjutkan perjalanannya menuju ke daerah Serang yang sebagian rakyatnya sudah sering mendengar tentang Islam dari pedagang-pedagang Arab dan Gujarat yang berlabuh di pelabuhan Banten.
Ternyata disana mendapat sambutan baik dari Adipati Banten, hingga untuk kelancaran dakwahnya beliau diperkenankan menikah dengan putrinya yang bernama NYI RATU KAWUNGANTEN.
Dari puteri Adipati Banten ini beliau dikaruniai dua orang putera, NYI RATU WINAON dan PANGERAN SABAKINGKING.

Berita tentang tampilnya seorang mubaligh asal kota Isma'iliyah sebagai pemimpin Nagari Caruban ini terdengar oleh Demak yang baru setahun berdiri sebagai Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa di bawah kekuasaan RADEN PATAH yang bergelar SULTAN. Tepatnya pada tahun 1478 Demak berdiri, setelah Raden Patah berhasil menumbangkan kekuasaan Prabu Girindrawardhana atas Majapahit yang bergelar BRAWIJAYA VII.

Demi mendengar bahwa di wilayah Pajajaran Agama Islam berkembang pesat setelah Nagari Caruban dipimpin oleh Syarif Hidayatullah, maka Raden Patah bersama-sama para mubaligh lainnya yang kesemuanya sudah bergelar Sunan menetapkan bahwa Syarif Hidayatullah Penguasa Nagari Caruban sebagai Panata Gama Rasul di tanah Pasundan, artinya yang ditetapkan sebagai pemimpin penyiaran agama Nabi Muhammad SAW di wilayah Jawa bagian Barat. Lebih dari itu pada saat Syarif Hidayatullah menghadiri undangan musyawarah para Sunan dalam menyusun strategi pengembangan Islam di Jawa serta rencana untuk membangun Masjid Agung Demak, beliau ditetapkan juga sebagai Sunan Cirebon dengan gelar SUNAN GUNUNG JATI. Bermula dari sini pula terbentuknya Sidang Dewan Wali Sembilan (WALISANGA), terdiri dari :
1. Maulana Raden Rahmat            : SUNAN AMPEL              ( Surabaya )
2. Maulana Makdum Ibrahim        : SUNAN BONANG          ( Tuban )
3. Maulana Raden Paku                : SUNAN GIRI                   ( Gresik )
4. Maulana Syarifuddun                : SUNAN DRAJAT             ( Sedayu )
5. Maulana Ja'far Shodiq              : SUNAN KUDUS              ( Kudus )
6. Maulana Raden Syahid             : SUNAN KALIJAGA        ( Kadilangu )
7. Maulana Raden Prawata           : SUNAN MURIA              ( Kudus )
8. Maulana Malik Ibrahim             : SUNAN GRESIK             ( Gresik )
9. Maulana Syarif Hidayatullah      : SUNAN GUNUNG JATI  ( Cirebon )

Dengan terbentuknya WALISANGA ini, maka terjalinlah rasa sepenanggungan dalam berjuang menegakkan Agama Islam di tanah Jawa. Karenanya sebagai tindak lanjut dari permusyawaratan itu Raden Patah menyarankan agar Caruban sekalian dijadikan Kesultanan yang tidak lagi harus menghaturkan bulubekti (upeti) kepada Pajajaran yang disalurkan lewat Kadipaten Galuh. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat perkembangan Islam ke Kadipaten-kadipaten di wilayah itu. Dan sekembali dari Demak yang sekian kalinya, dengan bantuan serta dukungan sepenuhnya dari Raden Patah, berdirilah KESULTANAN PAKUNGWATI dengan Syarif Hidayatullah sebagai SULTAN yang pertama.

Tindakan Cirebon yang demikian itu jelas sebagai tantangan bagi Pajajaran, sebab dikwatirkan akan berpengaruh  terhadap negeri-negeri lainnya. Oleh sebab itu tanpa peduli siapa yang duduk di Kesultanan Cirebon itu, Prabu Siliwangi mengirim satu angkatan yang dipimpin oleh Temenggung JAGABAYA untuk menangkap cucunya itu. Tetapi karena segala kemungkinan yang bakal terjadi telah diperhitungkan dengan matang oleh Sunan Gunung Jati, maka sepasukan dari Pajajaran itu tidak sampai berbuat banyak. Mereka hanya berjumlah sekitar enam puluh orang berikut temanggung Jagabaya akhirnya menyerah dan tidak kembali ke Pajajaran. Dan apabila telah datang pertolongan Allah dengan kemenangan itu, banyaklah yang lainnya menyusul menyatakan diri masuk Islam.

Dengan bertambahnya beberapa orang warga dari Pajajaran, semakin besarlah pengaruh Cirebon bagi negeri-negeri di wilayah Pajajaran, seperti negeri Surantaka, Japura, Wanagiri, Galuh, Talaga dan negeri asal Pedukuhan Caruban, Singapura yang sudah melebur diri menjadi wilayah Kesultanan Cirebon.
Lebih-lebih dengan diperluasnya Pelabuhan Muara Jati, jelas menambah ramainya perdagangan antar nusa sampai ke manca negara. Bahkan yang terbanyak di antara pedagang asing adalah dari Tiongkok yang kebanyakan membawa barang-barang hiasan dari keramik atau porselin. Membanjirnya pedagang Tiongkok di Cirebon ini setelah adanya pembauran melalui perkawinan antara kakak Ki Gede Tapa Nyi Rara Rudra dengan seorang saudagar Tiongkok MA HUANG yang kemudian dialihkan jadi Ki Dampu Awang. Dari Ki Dampu Awang inilah Kaisar Tiongkok mendengar bahwa Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah adalah keturunan bangsawan Arab. Oleh sebab itu ia mengizinkan anak puterinya dibawa oleh Ki Dampu Awang dan dinikahkannya dengan Sunan Gunung Jati demi keuntungan bangsanya dalam menjalin hubungan dagang di masa-masa seterusnya.
Puteri Kaisar Tiongkok ini bernama ONG TIEN yang kemudian diganti dengan nama NYI RATU RARA SUMANDING. Dari Puteri Tiongkok inilah perluasan Keraton Pakungwati Cirebon banyak menggunakan hiasan dinding dari porselin buatan Tiongkok. Tidak sedikit pula hiasan berbentuk Guci atau Kong dari dinasti MING yang dibawa ke Cirebon seperti yang masih tersimpan sekarang. Pernikahan SUNAN GUNUNG JATI dengan ONG TIEN sebagai isteri ke tiga ini berlangsung pada sekitar tahun 1481, setahun setelah pembangunan Masjid Agung SANG CIPTA RASA Cirebon.

Masjid Agung SANG CIPTA RASA dibangun pada tahun 1480 atas prakarsa Nyi Ratu Pakungwati dengan dibantu oleh Wali Sanga dan beberapa tenaga ahli yang dikirim oleh Raden Patah. Dalam pembangunan Masjid itu Sunan Kalijaga mendapat penghormatan untuk mendirikan SOKOGURU yang dari kepingan-kepingan kayu disusun menjadi sebuah tiang dan dinamakan SAKATATAL. Selesai Masjid Agung Pembangunan diteruskan ke jalan-jalan raya yang menuju negeri tetangga sambil menyertakan pembangunan di bidang mental memperluas pengembangan Islam ke seluruh wilayah Pasundan. Sementara Raja Pajajaran hanya bisa bersikap menahan diri meski dalam hatinya sudah sangat cemas karena pengaruh Cirebon yang sudah mendekati pusat pemerintahan Pakuan Pajajaran. Namun demikian, sejenak kadang-kadang Prabu Siliwangi merasa bangga demi menyaksikan keberhasilan anak serta cucunya hingga dapat menguasai wilayah sepanjang pantai Utara Pasundan. Sikap itulah yang diambil oleh Sang Prabu dan dimanfaatkan oleh Pangeran Cakrabuana selaku penasihat Sultan untuk membenahi wilayah Negeri dan pengembangan Islam.

Ditengah-tengah kesibukan pembangunan fisik material dan mental di Negeri Cirebon ini, datanglah utusan Raden Patah di Kraton Pakungwati, melaporkan bahwa Malaka sudah diduduki oleh Portugis. Karena itu Demak telah mengirim bala bantuan untuk pertahanan selanjutnya yang dipimpin oleh ADIPATI UNUS.
Dalam waktu dekat, Cirebon pun akan dikirim juga bantuan pasukan guna mempertahankan Pelabuhan SUNDA KELAPA.

Kerajaan Malaka diduduki Bangsa Portugis pada tahun 1511 pada masa pemerintahan Sultan MAHMUD SYAH. Pada saat itu banyak para Syekh dan Mubaligh yang pergi mengungsi ke negeri-negeri terdekat yang aman. Salah seorang diantaranya ialah Kiyai FATHULLAH atau FATAHILLAH atau FALETEHAN yang mengikuti perjalanan pulang tentara Dipati Unus. Selain menyelamatkan diri dari penjajahan Portugis, kedatangannya ke Demak juga untuk ikut serta membantu pengembangan Agama Islam di tanah Jawa seperti yang diharapkan oleh ayahnya Maulana Makhdar Ibrahim, Ulama asal Gujarat.
Sebagai putera seorang ulama yang terbilang tinggi ilmu Agama dan sosialnya, maka kehadiran Fatahillah di tengah-tengah Kesultanan Demak Pusat Pengembang Islam di Jawa merupakan harapan baik dalam mengemban tugas suci bersama-sama para mubaligh wali yang masih ada. Karena pada sekitar tahun itu ada beberapa orang dari Wali Sanga yang sudah wafat, seperti : Sunan Ampel wafat tahun 1481, Sunan Giri tahun 1506, dan Pangeran Cakrabuana Penasihat dan atau paman Sultan Cirebon Syekh Syarif Hidayatullah.

Sesuai dengan yang direncanakan bahwa Demak akan megirimkan pasukan ke Cirebon untuk bersama-sama mempertahankan Pelabuhan Sunda Kelapa dari Pendudukan Portugis, maka diangkatlah Fatahillah oleh Raden Patah menjadi Panglima Pasukan Demak yang akan berangkat ke tanah Pasundan. Tetapi belum waktu pemberangkatan itu tiba, pada tahun 1518 RADEN PATAH berpulang ke rahmatullah dan digantikan oleh DIPATI UNUS dengan gelar PANGERAN SABRANG LOR.
Pada saat penobatannya benyak terjadi pemberontakan-pemberontakan. Karena itu ia harus menyelesaikan lebih dahulu sebelum melangkah pada tugas utamanya mengembangkan Agama Islam. Dalam mematahkan pemberontakan ini, Pangeran Sabrang Lor gugur kurang lebih tahun 1521 dan digantikan oleh Sultan TRENGGONO sebagai Sultan ke III.
Pada awal pengangkatan Sultan Trenggono ini Fatahillah dikokohkan lagi sebagai pengawal Pasukan yang akan mempertahankan Sunda Kelapa dan langsung diberangkatkan ke Cirebon.

Dari Cirebon Tentara Demak itu bergabung bersama-sama menuju Sunda Kelapa dan tetap dibawah pimpinan Fatahillah. Kenyataan sesampainya disana pasukan Fatahillah ini tidak hanya berhadapan dengan Portugis, tetapi juga dengan Pasukan Pajajaran. Hal ini mungkin diketahui sebelumnya bahwa pasukan Cirebon tidak dipimpin langsung oleh Sunan Gunung Jati, karenanya lalu Raja Pajajaran mengambil tindakan dengan menerima tawaran Portugis untuk bekerja sama merebut kembali wilayah yang sudah dikuasai Cirebon disamping usaha mencegah pengembangan Islam yang lebih luas. Namun demikian pada akhirnya Pasukan Pajajaran dapat dipukul mundur dan Portugis pun terusir dari Sunda Kelapa pada tahun 1522.
Langkah selanjutnya setelah penaklukan Sunda Kelapa adalah mengamankan Banten dari gangguan Penguasa-penguasa yang masih beragama dan kepercayaan lama sebagai menjunjung tinggi seruan Raja Pajajaran yang sudah diganti oleh PRABU SURA WISESA.

Dalam hal pengamanan Banten dari gangguan yang dilakukan oleh sebagian orang-orang murtad itu. Fatahillah tidak banyak mengerahkan tenaga dan fikiran, sebab disana sudah banyak ditangani oleh Pangeran Sabakingking putra Sunan Gunung Jati.
Setelah keadaan kembali aman, Fatahillah diperintahkan untuk memimpin di Sunda Kelapa sementara belum ada putera daerah yang di angkatnya. Atas keberhasilannya dalam memimpin dua operasi demi tegaknya agama Allah itu Fatahillah mendapat sebutan nama KYAI BAGUS PASAI. Akan tetapi karena keinginannya menetap di Cirebon, maka sebagai pemimpin di Sunda Kelapa itu hanya beberapa bulan saja.
Pada saat yang sudah direncanakan Sunan Gunung Jati memanggilnya kembali ke Cirebon dengan mengadakan upacara penyambutan dengan meriah, hikmah serat Islami. Bersamaan dengan itu Sunan Gunung Jati mengambil isteri lagi seorang puteri dari Ki Ageng Tepasan mantan pembesar Majapahit yang turut dengan pasukan Demak ke Cirebon. Puteri Ki Ageng Tepasan itu bernama NYI AGENG TEPASARI. Hal ini karena alasan, pertama meninggalnya Nyi Ratu Pakungwati dalam peristiwa Memolo Masjid Agung, dan kedua karena dari perkawinannya dengan Nyi Ratu Pakungwati dan dengan Nyi Ong Tien belum dikaruniai anak. Dan Kenyataan pada akhirnya dari perkawinan ini dikaruniai dua orang anak RATU WULUNG AYU dan PANGERAN MUHAMMAD ARIFIN yang kelak menggantikan ayahandanya dengan gelar PANGERAN PASAREAN.

Langkah-langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh Sultan Cirebon Maulana Syarif Hidayatullah adalah memperluas wilayah Islam ke negeri-negeri sekitar Cirebon. Untuk itu beliau menarik kembali Fatahillah yang sudah menduduki jabatan Bupati Jayakarta itu untuk memimpin Pasukannya guna memperluas perkembangan Agama Islam. Adapun daerah-daerah sekitar Cirebon yang berhasil ditaklukan adalah :
  1. TALAGA, sebuah kerajaan kecil di sebelah Barat Daya Cirebon di bawah kekuasan Prabu Pucukumun yang beragama Budha. Dalam penaklukan ini yang tampil sebagai Panglima adalah NYIMAS GANDASARI Srikandi dari Pasai yang ikut ke Cirebon bersama Pangeran Cakrabuana semasa pulang dari Mekkah. Hal ini untuk menandingi Senapati Talaga yang juga seorang wanita puteri Prabu Pucukumun bernama Nyi Tanjung Raragan. Pada akhirnya salah seorang dari Putera Talaga ARYA SALING SINGAN berhasil dibawa ke Cirebon dan menyatakan diri masuk Islam. Sedangkan Prabu Pucukumun dan Nyi Tanjung Rarangan melarikan diri ke lereng Gunung Ciremai.
  2. RAJAGALUH, bekas pusat kerajaan Pajajaran sebelum pindah ke Pakuan (Bogor) diperintah oleh Prabu Cakraningrat. Sebagai bekas Pemerintahan Pajajaran, Rajagaluh menuntut agar Cirebon tunduk dan mengirim upeti seperti dulu. Senapati dari Cirebon oleh Fatahillah dipercayakan kepada ARIA KAMUNING anak angkat Sunan Gunung Jati dari Ki Lurah Agung untuk menghadapi ARIA KIBAN Senapati Rajagaluh. Kendati banyak pasukan Cirebon yang gugur namaun Rajagaluh dapat juga ditaklukan dengan tewasnya Aria Kiban dan Prabu Cakraningrat sendir. Dalam penaklukan Rajagaluh itu selain Aria Kamuning dan Nyi Mas Gandasari, tampil juga seorang pemuda pendatang dari Bagdad, yaitu RADEN MAGELUNG SAKTI.
Selesai penaklukan Talaga dan Rajagaluh, Sultan Cirebon Syekh Syarif Hidayatullah menyelenggarakan tasyakkuran bersamaan dengan menikahkan FATAHILLAH dengan puterinya RATU WULUNG AYU. Berkenaan dengan ini jabatan Bupati Jayakarta secara resmi diserahkan kepada Ki Bagus Angke.
Kemudian setelah segalanya diatur dengan tertib dan usia Sultan sudah lanjut, maka sang Putera PANGERAN MUHAMMAD ARIFIN dinobatkan sebagai Sultan ke II dengan gelar PENGERAN PASAREAN. Untuk penasihat Sultan yang masih muda ini Sunan Gunung Jati dengan persetujuan warga kesultanan lainnya mengangkat Fatahillah dengan sebutan KI BAGUS PASAI, dan Sunan Gunung Jati kembali ke Gunung Sembung guna menata gama Pasambangan, yakni menjadi guru Agama Islam di Pangguron Pasambangan.
Langkah demikian yang diambil oleh Sunan Gunung Jati ini sesuai dengan apa yang telah direncanakan sejak masih di negeri Mesir bahwa beliau ingin menjadi Pengembang Islam di Jawa. Namun sebaik-baik rencana manusia, rencana Tuhan lebih baik. Pada tahun ke lima pengangkatannya, kurang lebih tahun 1552 Pangeran Pasarean Sultan ke II Cirebon itu mendahului ayahandanya berpulang ke rahmatullah. Alhasil pada tahun itu pula Sang Pangeran Sabakingking telah dinobatkan sebagai Sultan Banten yang pertama dengan gelar SULTAN MAULANA HASANUDDIN. 

Dengan wafatnya Pangeran Pasarean ini, Sunan Gunung Jati yang sudah merintis ketentraman hari tuanya dengan menata Agama di Pasambangan itu kembali mengambil kebijaksanaan dalam tata pemerintahan. Kesultanan Cirebon dengan mengangkat ARIA KAMUNING sebagai Sultan Cirebon ke III dengan gelar DIPATI CARBON I. Sebelum pengangkatannya. Aria Kamuning atau Dipati Kuningan sudah menjadi menantu Ki Bagus Pasai karena memperistri puterinya NYI RATU WANAWATI dan selanjutnya menurunkan empat orang putera-puteri, yaitu : Nyi Ratu Ayu, Pangeran Mas, Pangeran Manis dan Pangeran Wirasaba.

Pengangkatan Aria Kamuning sebagai Sultan Cirebon memang kurang tepat, karena dia adalah anak angkat. Tetapi dikarenakan Pputera-puteri Pangeran Pasarean masih kanak-kanak, maka Sunan Gunung Gunung Jati mengambil kebijaksanaan yang demikian. Itupun atas persetujuan sesepuh-sesepuh Cirebon yang semula meminta beliau duduk kembali di Kesultanan.
Masa Pemerintahan Dipati Carbon I lebih kurang dua belas tahun, pada tahun 1565 tahta Kesultanannya diserahkan kepada puteranya yang baru berusia 18 tahun, yaitu PANGERAN MAS dengan gelar SULTAN PANEMBAN RATU I, karena usianya yang masih terlalu muda, maka Sultan Panemban Ratu I ini banyak memerlukan saran-saran dan bimbingan dari sesepuh kraton seperti Sunan Gunung Jati dan Kiyai Bagus Pasai sudah terlalu tua untuk bersanding di Kraton. Oleh karenanya pada masa pemerintahan Panemban Ratu I Cirebon sedikit mengalami penurunan, terutama hal pengembangan Agama. Untung pada masa Sunan Gunung Jati Kerajaan-kerajaan kecil yang menjadi pusat ajaran agama nenek moyang sudah semua ditundukkan, sehingga langkah untuk selanjutnya tinggal meningkatkan pembinaan agar diantara mereka tidak ada sedikitpun niat ingin memberontak.

Dalam suasana keprihatinan itu, dalam tahun 1568 seluruh warga Kesultanan Cirebon berduka cita dengan berpulangnya ke alam Baqa SYEKH MAULANA SYARIF HIDAYATULLAH SULTAN MAHMUD setelah genap berusia 120 tahun. Bersama ibu Syarifah Muda'im dan Paman Uwaknya Pangeran Cakrabuana, beliau dikebumikan di Pertamanan GUNUNG SEMBUNG. Dan dua tahun kemudian menyusul pula KIYAI BAGUS PASAI FATAHILLAH dimakamkan di tempat yang sama.

Demikianlah sekilas tentang riwayat GUNUNG JATI

Wassalam.
Share this article :

+ comments + 1 comments

November 12, 2012 at 12:18 AM

Mantap..

Post a Comment

Tolong komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan spam akan di hapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter.