Home » » Sekilas Riwayat GUNUNG JATI

Sekilas Riwayat GUNUNG JATI

Written By ari hermana on Wednesday, June 27, 2012 | Wednesday, June 27, 2012

Gunung Jati Sebagai Pangguron Islam

Pada permulaan abad ke VX Agama Islam sudah berkembang di Pulau Jawa, terutama di Gresik Jawa Timur, Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren bagi siapa saja yang berminat mempelajari Agama Islam. Para santri yang datang sebagian besar dari daerah sekitarnya dan hanya sedikit dari mereka asal Jawa Barat yang pada masa itu di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Sedangkan Gunung Jati termasuk wilayah negeri/daerah Singapura (Celancang), bawahan Pajajaran. Karena letaknya di tepi Pelabuhan Muara Jati, maka banyaklah pedagang-pedagang asing yang datang ke situ, baik pedagang Cina, Arab maupun pedagang Gujarat/pantai barat India. Ramainya perahu dagang asing yang berlabuh dipelabuhan Muara Jati itu karena selain letaknya yang strategis bagi perniagaan, juga karena penguasa negerinya Ki Gede Surawijaya dengan Syahbandarnya yang bernama Ki Gede Tapa atau Ki Jumajan Jati yang bersikap toleran terhadap setiap pedagang asing. Alhasil pada masa itu sedang mengalami pergolakan disebabkan ramainya penduduk yang berangsur-angsur masuk Agama Islam.

Seperti kita ketahui bahwa pedagang asing yang berasal dari Arab dan Gujarat ini, selain sebagai pedagang, mereka juga sebagai muballigh yang sengaja membawa ajaran Islam ke seluruh dunia, khususnya Asia Tenggara.
Maka pada sekitar tahun 1420 M, datanglah serombongan pedagang dari Bagdad yang di pimpin oleh SYEKH IDLOFI MAHDI memohon agar di perkenankan menetap di perkampungan sekitar Muara Jati dengan alasan untuk memperlancar dagangnya.
Oleh Ki Surawijaya rombongan Syekh Idlofi itu diizinkan tinggal di kampung Pasambangan di mana terdapat Gunung Jati. Sejak itulah dia memulai kegiatannya berdakwah mengajak penduduk serta teman-teman dekatnya mengenal Islam.
Bagi sebagian orang yang telah mendengar tentang agama baru itu terus saja mendatangi dan menyatakan diri masuk Islam atas ketulusan hatinya. Maka untuk ketenangan mereka yang ingin mempelajari Islam lebih dalam, Syekh Idlofi diperkenankan mengambil tempat di Gunung Jati untuk kegiatan dakwahnya. Itulah awal mula Gunung Jati sebagai Pangguron Islam.

Dengan caranya yang sangat bijaksana dan penuh hikmah dalam menyampaikan dan mengajak orang masuk Islam, maka dalam waktu yang singkat Pangguron Islam Gunung Jati sudah didengar sampai ke pusat Kerajaan Pajajaran. Demikian itu karena pada suatu hari Syekh Idlofi kedatangan RADEN WALANGSUNGSANG dan adiknya RATU RARASANTANG serta istrinya NYI ENDANG GEULIS yang bermaksud ingin mempelajari agama Islam.

Raden Walangsungsang dan Ratu Rarasantang, keduanya adalah putra-putri Raja Pajajaran RADEN PAMANARASA yang bergelar PRABU SILIWANGI dari perkawinannya dengan NYI MAS SUBANGLARANG putri Ki Jumaran Jati yang pada waktu itu sedang belajar di Pangguron Islam Syekh QURO' Krawang.
Jadi keduanya sebagai cucu Syahbandar Pelabuhan Muara Jati. Kedatangannya di Pangguron Gunung Jati tidak seizin ayahnya, karena Prabu Siliwangi kembali ke agama Budha setelah Nyi Subanglarang meninggal dunia. Sedangkan kedua putra-putri itu sudah dididik dan diberi petunjuk oleh mendiang ibunya agar memperdalam agama Islam di Pangguron Gunung Jati semasa keduanya masih kanak-kanak.
Karenanya kedatangan mereka di Gunung Jati selain melaksanakan petunjuk almarhumah ibunya, juga bermaksud sungkem kepada eyangnya.

Dengan kehadiran keluarga Kraton Pajajaran ini, semakin giatlah Syekh Idlofi dalam berjuang mengembangkan Agama Allah dan semakin syiar pula nama Pangguron Islam Gunung Jati. Kegiatan dagangnya sudah diserahkan kepada beberapa orang temannya, karena seluruh waktunya sudah dicurahkan untuk berjuang di jalan Allah SWT.
Satu kebiasaan yang dilakukan Syekh Idlofi di luar waktu da'wah dan selalu diperhatikan oleh santri-santrinya ialah tafakkur menyendiri di satu tempat seperti gua di puncak Gunung Jati. Karena itulah maka para santri memanggilnya dengan nama "SYEKH DZATUL KAHFI" artinya "sesepuh yang mendiami gua". Selain dari sebutan itu, karena bersinar atau siarnya Gunung Jati di luar daerah disebabkan kemuliaan taqwanya kepada Allah, hingga masyarakat kampung Pasambangan menyebutnya "SYEKH NUR JATI" artinya "sesepuh yang menyinari atau menyiarkan Gunung Jati".
Berkenaan dengan itu beliau senantiasa mengamati setiap santri yang akan meniggalkan Pangguron dengan perkataan "SETTANA" artinya "Ikat Eratlah" segala yang telah diperoleh dari Gunung Jati. Maksudnya : Pegang teguhlah semua ajaran yang didapat dari Pangguron Islam Gunung Jati dan jangan sampai lepas". Sejak itu tiap orang yang akan dan dari Pangguron Islam Gunung Jati mengatakan dan menamai kampung Pasambangan itu dengan nama "SETANA GUNUNG JATI".
Namun pada akhirnya Gunung Jati itu digunakan untuk pemakaman, terutama makam Syekh Dzatul Kahfi sendiri, maka oleh penduduk Jawa Barat yang sebagian besar berbahasa Sunda, sebutan SETANA diganti menjadi ASTANA artinya Kuburan.
Walaupun demikian penduduk Daerah Jawa Barat yang berbahasa Jawa masih banyak yang menyebutnya SETANA, seperti penduduk asli Cirebon, Indramayu dan Losari.

Demikianlah maka kampung Pasambangan yang mencakup sekitar Gunung Jati, sampai sekarang dinamakan Kampung atau Desa ASTANA GUNUNG JATI.
Letaknya kira-kira 12 kilometer arah Utara dari Terminal Bus Bypass Cirebon, termasuk wilayah Kecamatan Cirebon Utara Kabupaten DT II Cirebon. Luas wilayahnya kurang lebih 36,350 ha, terdiri dari 23,010 ha Tanah Desa dan 13,340 ha Tanah Merdeka atau Tanah Kraton. Pada tahun 1987 penduduknya berjumlah 4279 jiwa.

Sekitar Komplek Gunung Jati tempat dimakamkannya Guru atau Mubaligh Syekh Dzatul Kahfi dipimpin oleh seorang Juru Kunci atas perintah Sultan Cirebon. Selain makam Syekh Dzatul Kahfi yang ada di atas bukit, Gunung Jati digunakan juga sebagai pemakaman umum penduduk desa.

Demikianlah Sejarah Singkat tentang Pangguron Gunung Jati atau yang sekarang disebut sebagai ASTANA GUNUNG JATI

Wassalam.
Share this article :

Post a Comment

Tolong komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan spam akan di hapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter.